eSIM dan Kebebasan Konsumen

Minggu kemarin saya tidak sengaja melihat iklan di salah satu platform ecommerce yang menawarkan menjual smartphone Android (merk Perancis rakitan lokal) dengan fitur esim dan dengan bonus paket data selama periode tertentu.  Katanya sih mereka yang pertama kalinya  meluncurkan produk ini di Indonesia. Singkat cerita, Out of curiosity saya langsung membelinya untuk merasakan seperti apa pengalaman menggunakan eSIM ini (Google Fi anyone?)  – sampai saat saya menulis ini Menkeu belum tahu kalau saya beli ‘mainan’ baru, padahal di rumah masih ada beberapa smartphone Android yang nganggur. Demi ilmu pengetahuan Bun… 😏

Untuk smartphone nya sendiri sebenarnya tidak ada yang spesial.  Spesifikasinya entry-level, standard harga 800 Ribuan. Tetapi karena menggunakan Android Go (https://www.android.com/versions/go-edition/)  kinerjanya  terasa lumayan. Walaupun menurut saya masih lebih cepat kinerja Android One yang dulu (memang bukan apple to apple karena yang ini versi Oreo 8.1 yang jelas memiliki fitur yang lebih kaya).

Kembali ke fitur yang membuat saya tertarik untuk membelinya yaitu eSIM, yang adalah singkatan dari embedded SIM.  Prinsipnya, eSIM ini adalah kartu SIM yang fisiknya sudah tertanam di smartphone dan bisa diprogram secara fleksibel dengan software.  Sekarang ini memang sudah jamannya semuanya software-defined 👍.    Untuk lebih lengkapnya monggo Googling sendiri.

Jika kita menggunakan SIM card yang tradisional (SIM, Micro,Nano dll) maka operator yang mengeluarkan SIM itu sudah menyiapkan ‘profile’ atau konfigurasi di dalam kartu SIM tersebut (misal nomer IMSI) agar pengguna bisa terhubung dan menggunakan layanan di jaringannya.  Kartu SIM tradisional ini tidak dibuat untuk reconfigurable, sehingga jika kita ingin berganti operator maka tidak ada cara lain selain kita harus membeli kartu SIM baru.

Tidak seperti SIM tradisional, eSIM memungkinkan rekonfigurasi profile operator bahkan lebih dari satu operator secara remote (tanpa harus mengganti SIM). Perubahan ini bisa dilakukan dari sistem terpusat (misal pada layanan M2M, IoT) atau melalui aplikasi yang ada di smartphone (untuk pengguna smartphone). Fleksibilitas ini akan memberikan banyak manfaat bagi Operator, pengguna smartphone maupun pemain lain di ekosistem industri telekomunikasi.

Misal sebagai pengguna smartphone, sekarang jika kita tidak mau ‘terkunci’ pada sebuah operator (baik karena pertimbangan kualitas layanan maupun harga) maka kita harus menggunakan HP dual-SIM atau memiliki lebih dari satu smartphone. Atau kita harus repot bongkar pasang SIM jika ingin berganti produk.  Dengan eSIM ini akan memungkinkan kita bisa lebih mendapatkan kebebasan untuk memilih layanan dari operator yang kita anggap paling menguntungkan. Memang dalam satu waktu tetap hanya satu profile atau identitas yang bisa digunakan dan sekarang ini regulasi di Indonesia belum memungkinkan untuk transfer nomer seluler ke operator lain. Tapi bisa saja di masa mendatang hal ini berlaku juga di Indonesia.  Atau bisa saja di masa depan identitas nomer HP kita sudah tidak lagi terikat pada nomer MSISDN melainkan bisa user ID atau nomer KTP.  Sehingga proses untuk berganti layanan ini akan lebih seamless. 

Untuk eSIM yang ditanam di smartphone Android yang saya beli ini disediakan sebuah produk beserta aplikasinya yang memungkinkan pengguna untuk menggunakan jaringan dari Operator yang sudah bekerjasama dengan produk layanan data ini.  Saya tinggal membuka aplikasinya dan otomatis HP akan terkoneksi ke jaringan yang paling baik (sesuai algoritma aplikasinya, saya tidak tahu apakah berdasarkan kuat lemahnya sinyal, kecepatan atau yang lain ).  Hal ini dimungkinkan karena eSIM bisa diprogram untuk memiliki profile dari operator-operator yang sudah bekerjasama.  Mencoba hal ini dirumah, HP saya langsung terkoneksi ke 4G Telkomsel.

 

skyroam1

Memang jauh lebih lambat dibanding layanan data dari misal Kartu Halo Telkomsel saya, tapi mustinya cukup untuk penggunaan standar data sehari-hari. Update: saya coba di markasnya Telkomsel  kecepatannya sama dengan menggunakan Kartu Halo, jadi artinya tidak ada ‘treatment’ khusus dari Telkomselnya.

Hal yang mengagetkan adalah harga dari layanan data yang ditawarkan oleh provider ini (yang menurut saya walaupun lebih mirip MVNO tapi bisa dikategorikan layanan Over The Top atau OTT, yang bergantung kerjasama dengan operator). Provider ini menawarkan paket data plan global atau lokal Indonesia yang masa aktifnya bervariasi, bahkan sampai 365 hari dengan harga yang mencengangkan, saya ambil contoh paket 1Gb dengan masa berlaku 365 hari dihargai $0.8 = 12 Ribuan saja !!! 😱 😱 😱  (pembayaran melalui kartu kredit atau Paypal).  Bandingkan dengan harga paket data Telkomsel, untuk paket data yang cuma 250 – 700 Mb saja  dihargai 25 Ribu dan hanya berlaku 1 bulan.

simoplan.png

Tapi perlu diingat, industri telekomunikasi ini termasuk salah satu yang highly regulated.  Bisa saja ini hanya tarif perkenalan atau  pada saatnya pasti akan kena tegur regulator dengan berbagai alasan (proteksi?).

Provider layanan kuota data OTT ini bisa jadi akan berkompetisi langsung dengan operator sendiri (bisnis jualan kuota data) jadi saya pikir mungkin pada akhirnya hanya akan terbatas pada layanan roaming saja.  Kecuali jika provider OTT ini bisa melakukan monetization dari hal yang lain (targeted ads, kerjasama bundling smartphone dll) atau trik yang lain untuk bisa memberikan harga paket data lokal yang menarik tanpa harus  perang  harga langsung dengan operator mitranya.  Seperti bisnis MVNO atau Google Fi barangkali ?  Yang pasti adanya alternatif ini harusnya akan bisa menghadirkan kompetisi dan menambah opsi yang akhirnya akan menguntungkan kita sebagai konsumen.

Dari pengalaman merasakan fleksibilitas layanan data ini saja saya langsung sepakat bahwa eSIM adalah masa depan.  Belum lagi kalau menengok keuntungan lain yang diberikan untuk sektor telekomunikasi ini  (misal kemudahan membangun layanan M2M atau IoT).  Tinggal bagaimana regulator dan operator menyikapinya, apakah akan menyambut dan berinovasi atau justru membatasi dan menerapkan proteksi.  Sebuah kemustahilan untuk berharap operator bisa berinovasi kalau tidak ada kompetisi.

Nah, beberapa waktu yang lalu ada perusahaan baru (YELO) listing di BEI yang bisnis model nya menyewakan modem data untuk roaming.  Jika nanti eSIM sudah menjadi fitur umum di smartphone, investor layak khawatir karena artinya traveler tidak perlu lagi sewa modem tetapi tinggal butuh download aplikasi dan beli paket datanya.  Tapi YELO bisa juga monetize trend ini dengan menawarkan paket data untuk lokal Indonesia yang artinya akan berkompetisi dengan operator incumbent.   Menarik untuk ditunggu…

Anda salah satu pemilik saham YELO ? :)

 

 

Advertisements