average, are you?!

By: rusiawan

Jan 28 2012

Category: Kehidupan, Komentar, Sehari-hari

Living reality. what a busy month!, lots of things to do, tons to be learned, much to enjoy …

I managed to read one of my favorite column :

http://www.nytimes.com/2012/01/25/opinion/friedman-average-is-over.html

You know what… benar sekali!

Untuk yang percaya, rejeki memang sudah diatur Tuhan, tapi bagi yang masih bekerja pada orang/organisasi lain (employee) tetap harus selalu atau segera bersiap diri atas resiko kehilangan pekerjaan, terutama di sektor swasta yang memang hampir semuanya menganut paham kapitalisme dimana salah satu prinsipnya adalah efisiensi.

Teknologi yang pada awalnya merupakan sarana pembantu manusia dalam melakukan kerja mulai beralih fungsi menjadi pengganti manusia karena proses inovasi yang terus terjadi dan efisiensi yang menjadi tujuannya.

Untuk menyamai  kemampuan manusia, teknologi memang masih sangat jauh dari mampu. Tapi sudah bisa kita lihat bahwa teknologi mulai bisa  menggantikan manusia  untuk hal-hal yang hasil akhirnya bisa diprediksi dan bersifat rutin serta berulang.  Bahkan teknologi menawarkan efisiensi dan kualitas yang lebih tinggi dibanding hasil yang diperoleh dari kinerja manusia (atau sekelompok manusia).

Terutama bagi yang bekerja di bidang teknologi informasi, seperti halnya saya, efek dari kemajuan teknologi ini akan sangat terasa.  Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, globalisasi dan berbagai konsep efisiensi yang ada di dalamnya (virtualisasi, distribusi, sentralisasi dll.) yang semakin mudah membuat tantangan bekerja di bidang ini sangat besar.

Inovasi  

Sebelum teknologi mencapai tahap mandiri, permintaan pekerja di sektor ini (untuk inovasi dan implementasi teknologi)  memang masih banyak dan akan terus bertambah.  Tapi seiring dengan inovasi yang terus dilakukan, teknologi akan semakin cerdas dan bisa menggantikan manusia dan konsekuensinya memangkas lapangan pekerjaan. Jika kecepatan pertambahan rate inovasi melebihi kecepatan pertambahan kebutuhan pekerja, maka bisa dipastikan ketersediaan lapangan kerja semakin berkurang.

Pekerja dengan kemampuan rata-rata dan mengandalkan kemampuan fisik adalah yang paling beresiko (mengalami penurunan kualitas hidup atau bahkan kehilangan pencaharian).

Saya yang kebetulan bekerja sebagai konsultan, yang tentunya juga menerapkan teknologi untuk membantu menyelesaikan pekerjaan, sudah bisa mulai merasakan dalam beberapa hal pekerjaan bahwa sayalah pembantu yang sebenarnya.  Dalam beberapa hal tersebut, fungsi saya hanyalah melakukan koreksi dan verifikasi atas proses kinerja yang dilakukan teknologi. Tujuan (objective) dan peraturan (set of rules) sudah ditentukan dan diketahui oleh sistem dan dengan automasi yang dijalankan maka tentu saja sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh teknologi.  Pada akhirnya bisa dipandang bahwa saya hanyalah pelengkap. Suatu saat nanti ketika teknologi sudah mandiri (salah satunya adalah ketika konsep Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan sudah mature)  maka fungsi  dan peran saya bisa dihilangkan  dan digantikan dengan teknologi.

Sebagai pegawai (employee) selama teknologi belum bisa sepenuhnya menggantikan, kiat untuk bisa bertahan di sektor pekerjaan ini adalah dengan memiliki kemampuan yang mendalam dan unik.  Kita harus bisa membuat diri kita untuk selalu dibutuhkan oleh organisasi.  Dengan peran pemerintah yang kurang, kita tidak akan bisa bertahan dengan mengandalkan demo atau mengajukan tuntutan.  Karena kapitalisme mengedepankan efisiensi daripada manusiawi.  Beda dengan bekerja di sektor pemerintahan (PNS) dimana birokrasi untuk melakukan PHK sangat panjang (singkatnya, resiko untuk dipecat karena prestasi yang kurang lebih rendah, bahkan melakukan perbuatan asusila pun masih ada peluang untuk mutasi. PS: For you who are PNS, it’s debatable but that’s the fact that i’ve seen here ).

Maka bagi yang merasa berkemampuan rata-rata, bersiap-siaplah selain untuk bersaing dengan orang lain yang bisa jadi lebih segar dan berkemampuan lebih juga untuk bersaing dengan teknologi yang sudah mengintai posisimu!.

Globalisasi

Penggunan teknologi informasi untuk mengatasi jarak dan waktu membuat realisasi globalisasi ekonomi semakin cepat.  Menyelesaikan pekerjaan tanpa harus pergi ke kantor (mobile worker) menjadi opsi yang ditawarkan organisasi.  Di satu hal menawarkan hal yg  preferable bagi pegawai (termasuk saya :D ) hal lainnya sebenarnya adalah organisasi juga melakukan efisiensi (listrik, transportasi dll).  Karena teknologi maka dimungkinkan untuk menjalankan bisnis/pekerjaan di suatu negara tanpa harus menyediakan/mempekerjakan pegawai di negara tersebut.

Bagi organisasi, atas dasar prinsip efisiensi, tersedia fleksibilitas dalam mengatur dan mengalokasikan sumber daya manusia.  Seperti misalnya melakukan outsource untuk pekerjaan yang kurang membutuhkan pengetahuan dan kemampuan yang tinggi ke negaralain  dengan standar hidup dan gaji yang lebih rendah dan melakukan sentralisasi untuk pekerjaan yang membutuhkan kemampuan dan pengetahuan yang tinggi (dimana biasanya dengan tingkat gaji yang tinggi dengan jumlah pegawai yang sedikit).

Dalam hal ini peran pemerintah jelas sangat dibutuhkan untuk membuat peraturan yang melindungi kesejahteraan rakyatnya.  Dari pengamatan saya (khusus di bidang saya), perusahaan swasta nasional yang masih dibawah manajemen orang Indonesia masih memberikan perlindungan dengan menyaratkan pegawai adalah orang lokal sehingga masih reluctant untuk mengadopsi globalisasi secara penuh walaupun ada tuntutan efisiensi.   Tapi pada saatnya nanti dimana persaingan semakin kejam dan efisiensi mutlak diadopsi dengan segala macam caranya,  maka globalisasi akan diterima dengan tangan terbuka.  Gampang saja, globalisasi bisa menekan pengeluaran!.

Saya sendiri sudah mulai merasakan bahwa organisasi dimana saya bekerja mulai gencar menerapkan prinsip ini. Pekerjaan yang membutuhkan kemampuan dan pengetahuan yang tinggi juga akan bisa dikerjakan secara remote oleh sebuah tim virtual yang bisa berlokasi di mana saja.

Maka, sekalipun sudah berusaha untuk meningkat dari kemampuan rata-rata,  kita harus tetap harus bersaing dengan orang lain yang berasal dari seluruh dunia !

Kesimpulannya,  hidup akan makin berat dengan hanya kemampuan rata-rata. Bersiaplah… !

Kalau masih mau berharap pada pemerintah,  kita berharap pemerintah untuk bisa memfasilitasi  dan memberikan kesempatan pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat dan  lebih peduli dalam membuat peraturan yang pro rakyat. Bukan pemerintah (atau pemimpin) yang acuh kepada rakyatnya hanya karena disogok dolar, jalan-jalan ke luar negeri atau traktiran ke panti pijat!

Advertisement
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.