
Information Overload
Bukan pertama kali ini saya mengutip pendapat dari Alvin Toffler tentang Information Overload.
Dalam bahasa Indonesia, Information Overload bisa diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seseorang menjadi sulit memahami suatu isu dan atau untuk kemudian mengambil keputusan dikarenakan ketersediaan informasi yang berlebih.
Akhir-akhir ini, karena tuntutan pekerjaan, saya harus kembali menyegarkan pengetahuan saya agar mampu melakukan analisa sebagai bagian proses pencarian solusi suatu masalah. Seperti pada umumnya orang yang bekerja di dunia ICT, sumber informasi utama yang hampir selalu digunakan adalah Internet dan koleksi ebooks.
Setelah saya evaluasi, tanpa saya sadari ternyata waktu yang saya habiskan untuk mengumpulkan sumber referensi dan kemudian memilihnya untuk dipelajari lebih lanjut jauh lebih banyak daripada waktu yang saya habiskan untuk mempelajari materi referensi tersebut!.
Conventional wisdom mengajarkan kita bahwa semakin banyak pilihan semakin baik. Tapi terlalu banyak pilihan juga justru bisa merugikan. Dalam psikologi modern, ada studi yang menghasilkan pendapat bahwa terlalu banyak pilihan justru bisa mengurangi kualitas dari hasil pemilihan dan kepuasan pemilih.
Semakin banyak pilihan semakin banyak pula waktu yang kita gunakan untuk membandingkan. Semakin besar pula peluang untuk menjadi kecewa atas pilihan yang kita tetapkan.
Untuk itulah, di masa ini dimana jumlah informasi yang tersedia begitu besar, bervariasi (termasuk keakuratannya ) dan cepat penyebarannya, kita dituntut untuk mempunyai kemampuan dan waktu lebih untuk bisa mengambil manfaatnya secara benar dan efisien.
Atas pertimbangan itu pula juga saya kurang tertarik untuk aktif di mesia sosial seperti Facebook dan Twitter, termasuk pula untuk memiliki Blackberry. Sebisa mungkin saya berusaha agar saya adalah pemegang kendali atas informasi (aktif) dan sebisa mungkin mencegah datangnya informasi yang berlebihan. Sementara, penggunaan FB, Twitter dan BB membuat kita cenderung dalam kondisi pasif menerima begitu banyak informasi yang tersedia. Perlu waktu dan energi ekstra untuk memilah mana yang bermanfaat dan mana yang tidak.
Bagi saya mesin pencari dan teknologi RSS sudah cukup bisa memenuhi kebutuhan atas informasi. Ketika butuh mencari suatu informasi, saya bisa mencari lewat Google (aktif), sedangkan untuk update informasi secara pasif sampai sekarang ini RSS adalah yang paling efisien bagi saya.
When the cost of acquiring information is greater than the benefits to be derived from the information, it is rational to be ignorant. –Theory of rational ignorance
*sedang membaca: Surviving Information Overload by Kevin A. Miller.
