
potatoes, healthy choice!*
Makanan pokok kentang ? sok bule banget sih? :D
Sudah 2 mingguan ini saya sudah tidak pernah memasak nasi dan menggantinya dengan kentang!. Memang sih masih beberapa kali makan nasi, di masjid setelah jumatan kemarin karena ada gretongan nasi kambing afghanistan dan di tempatnya mas Umar pas tadarusan, tapi selain itu di rumah rata-rata makan kentang.
Sebelumnya juga pernah memang mengganti makanan pokok dengan kentang, tapi malah akhirnya tetap membeli beras lagi. Gara-garanya salah pilih beli kentang. Saya kira semua kentang rasanya toh sama saja, jadi saya beli lah yang paling murah (maklum masih mental mahasiswa :P aih.. dari dulu kok belum merasakan hidup bebas finansial, yang bisa beli tanpa lihat harga hahaha..).
Hatta, setelah saya masak (kupas dan rebus) kok rasanya kurang enak, mana matangnya lamaa lagi. Beda dengan yang biasa teman-teman serumah masak. Hmm.. kembali ke nasi deh akhirnya dan hiks, akhirnya sisa kentang terbuang percuma karena sudah lembek dan bertunas banyak (sudah tidak layak dimakan). Silakan sih kalau ada yg mau masak tumis tunas kentang :P.
Ternyata kata si Pim (anak Belanda teman serumah), memang beda-beda kualitas kentangnya (ono rego ono rupo katanya, kalau di-jawa-kan tapi :D). Dan kata Tante saya, yang saya beli kemarin itu kentang kualitas rendah, yang biasa untuk membuat frites/kentang goreng. Kalau untuk pengganti nasi sih mending beli yang agak mahal tapi yang enak, daripada murah tapi tidak termakan.
Akhirnya saya belilah kentang yang lebih mahal, karena di Aldi Markt di dekat rumah cuma ada 2 jenis kentang (alasan belanja di Aldi: lebih murah! :P). Saya beli yang ada labelnya, snelkoken (masak cepat, lebih cepat matang). Dan alhamdulillah, ternyata memang lebih enak, ada sedikit rasa gurihnya dan 10 menit rebus sudah siap.
Memilih kentang sebagai makanan pokok pengganti beras adalah pilihan yang sehat. Selain karena kandungan karbohidrat yang lebih sedikit tetapi serat lebih banyak, kentang juga mengandung banyak vitamin dan antioksidan. Tapi sayangnya jumlah kalori kentang juga lebih sedikit dibanding kalori beras putih. Wajar kenapa awalnya saya walaupun sudah makan tapi kok masih merasa lapar (dan akhirnya malah masak Indomie lagi malam-malam hahahah..)
Berikut perbandingan kentang dengan nasi (keduanya direbus) per 100 gram (lebih detailnya cek www.nutritiondata.com):
*Tapi sebenarnya alasan utama saya mengganti beras dengan kentang sih bukan karena keunggulan kentang tersebut :P, tapi karena memang harga kentang jauh lebih murah daripada beras disini hahahah… :P (maklum gan, mahasiswa rantau).
Jika harga beras kualitas rendah disini (Pandan/Suriname rijs, broken. Hah, beras pandan termasuk murah?? Maklum tidak ada beras jatah atau IR-64 disini. Apalagi beras Delanggu Klaten, susah nyarinya :D ) kira-kira 1.2 EUR per kg, maka dengan 1.4 EUR saya sudah bisa membawa pulang 1 sak kentang = 5 kg (kualitas sedang, snelkoken).
Jika saya mengkonsumsi nasi, kira-kira per hari saya memasak 200 gram beras (setengah bungkus beras merek Euroshopper :P ) maka 1 Kg beras = 1.2 EUR akan habis dalam waktu 5 hari. Kalau mengkonsumsi kentang, kira-kira per hari saya memasak 5 buah kentang (750 gr, rata-rata 1 kentang = 150 gr) maka dengan 1.4 EUR saya bisa bertahan hidup 5000/750 = 6.7 hari ~ seminggu (bisa lebih kalau mau puasa Senin-Kamis). Tapi hitung-hitungan ini berdasarkan SUK = standar ukuran kenyang saya lho ya :P.
Kalau berdasarkan standar kebutuhan nutrisi (minimal jumlah kalori atau karbohidrat), gaya makan dengan hitung-hitungan saya diatas belum tentu sehat :P (ya, namanya mahasiswa, harus prihatin hahahah). Menghitung kalori tampaknya cukup sulit karena harus menghitung juga lauk dan yang lainnya. Paling mudah adalah menghitung kebutuhan karbohidrat, manusia dewasa dengan aktivitas normal rata-rata yang mengkonsumsi 2000 kcal membutuhkan asupan karbohidrat 250 gram (http://www.healthierus.gov/dietaryguidelines).
Kandungan karbohidrat per 100 gram bahan mentah: beras ~ 150 gram, kentang ~ 20 gram. Maka, 1.2 EUR = 1 Kg beras ~ 1500 gram karbohidrat = 6 hari (0.2 EUR/hari). Sedangkan dengan 1.4 EUR kentang = 5 Kg ~ 1000 gram karbohidrat = 4 hari (0.35 EUR/hari). Hmm.. sebenarnya menurut standar nutrisi akan lebih hemat kalau mengkonsumsi beras. Tapi sekali lagi untuk saat ini bagi saya lebih relevan menggunakan SUK. Kenyang yang pas belum tentu sehat, dan sebaliknya sehat yang pas juga belum tentu kenyang! Prioritas pertama kenyang dulu deh :P Toh cuma kebutuhan karbohidrat juga…
Satu tips jika kita ingin hidup hemat di luar daerah asal kita: berusahalah untuk melokal, makan makanan yang biasa dikonsumsi di daerah tersebut (asal halal), niscaya harganya lebih murah!
**photo is linked from http://www.flickr.com/photos/bitzi/108710856/

hahaha, mulai lagi itung-itungan karbohidrat per mata uang.
jadi inget debat bareng antohung, pak us, erick soal paket millenium vs. paket merdeka ala fallujah.
iyo.. hahaha.. paket merdeka, kenangan mahasiswa elit taman hewan :D
wahahahaha.. aku juga pernah hidup dari kentang..
tapi alasannya bukan karena perhitungan ini itu mas..
tapi karena belon punya rice cooker waktu itu dan bosan ngeliwet nasi pake panci.. (lamaaaa dan menjemukan…)
berarti udah lidah londo nih ya?
untung jepun masiy nasi..
jadi dah bs masak kentang dgnberbagai macam resep ndi? :D
@narps,
ha3.. enak ya di jepun beras masih murah. Haha.. lidah sih tetep aja jowo, wong makan kentang lauknya rendang :))
@qonita
wah cm 3 macam: boiled,baked and mashed potatoes :P. Pernah nyoba pake Microwave gara2 inget Resep OK Rudy, yg dibelah trus dikasih isian itu, eh malah gak mateng :)).
Masing ingat, jika ayahku alm darah tingginya kumat, makannya kentang (nasi diganti kentang)…..
Bagiku, untuk sarapan, makan roti lebih tahan lapar dibanding makan nasi….belum mencoba sarapan pake kentang.
Pernah coba jg tuh . .
Mkn kentang pengganti nasi^^
tp g bertahan lama_hoh0:)