ketika idealisme dipertanyakan…
By: rusiawan
tags: bekerja, idealisme, ilmu, menikah, rizki, sekolah, tujuan hidup
Category: Uncategorized
Belum apa-apa gosip sudah beredar luas. Di kantor, di kantor cabang X, di kantor cabang F, di kampung eheheh.. kok kyna semua sudah pada tau kalau aku akan ke N.
Terus terang sudah setahun ini aku terjun 100% di dunia profesional. Bekerja, ya bekerja. Berbeda dengan kerja paruh waktu yang sudah biasa kutekuni di bangku kuliah dulu.
Berhubung merasa sudah mencapai titik saturasi di kandang gajah, pergilah aku merantau ke Jakarta. Pada awalnya niat bekerja adalah mencari pengalaman dan pengetahuan baru. Aku haus ilmu baru, peduli amat dengan uang, begitu idealisme ku bergolak kala itu. Kuambillah sebuah pekerjaan di suatu sistem yang -kuharap- kaya dengan ilmu praktis di bidang yang aku sukai kala itu. Lambat laun, ketika mulai terasa ternyata tidak sesuai yang diharapkan ditambah ketika muncul tanggung jawab lain, menghidupi belahan hati mertua yang sekarang menjadi belahan hatiku, idealismu itu mulai bergeser. Wajar sepertinya, tujuan pokok bekerja adalah mencari penghasilan.
Sekali lagi aku dihadapkan pada kondisi yang membuat akalku berpikir sepertinya aku harus berubah haluan, tidak mungkin aku seperti ini terus. Tujuan utamaku bekerja ternyata belum tercapai dengan sepantasnya. Mungkin memang Allah, alhamdulillah, menjawab ketidaksabaranku dengan kondisi ini dengan karunia rizki (dan tetep Kurnia adalah rizki yg sangat kusyukuri :P ) yang lain, yang kata teman-teman adalah juga “rejekine wong nikah”, rejeki-nya orang menikah :D.
Aku diberi kesempatan untuk memuaskan idealisme pertamaku dalam coretan non-fiksi ini. Kesempatan untuk bisa lebih fokus mencari ilmu. Sebuah kesempatan yang juga sumbangan rakyat Indonesia, ya, kesempatan dan juga beban buatku. Banyak pertimbangan yang harus kubuat untuk memutuskan mengambil kesempatan ini, di sisi lain kesempatan mengejar idealismeku bisa tersalurkan namun secara bersamaan di sisi yang lain tanggung jawabku kepada keluarga intiku pastinya menjadi akan lebih berat untuk diperjuangkan.
Saat masih berkutat dengan euroforia eh euforia keingintahuanku tentang kesempatan di dunia baru bagiku tadi sekaligus ketakutan akan tanggungjawab dan beban yang harus kupikul, lagi-lagi aku dihadapkan pada kondisi yang membuatku kembali mempertanyakan idealismeku, idealisme yang selama ini menjadi salah satu dasar mengambil pilihan. Allah kembali memberi rizki sebuah kesempatan untuk bekerja profesional di tempat yang banyak diidamkan mahasiswa yang baru lulus, pekerjaan di sektor yang dianggap paling basah di negeri ini, perusahaan minyak, itu dia ! :P. Orang bilang sih yang terbesar revenue-nya, yang tentunya terbesar memberi gaji kepada karyawannya (setidaknya untuk entry level seperti aku ini hehehe.. ). Tinggal 2 tahap lagi menuju kesitu. Idealismeku bertanya, hayo km sebenarnya maunya apa ? Melanjutkan untuk mewujudkan euroforia idealisme tentang ilmu atau mengejar transferan per bulan yg 2 digit itu ? Masih terasa melayang….
Akankah idealisme itu untuk selamanya ? ataukah ada idealisme berjangka ?
Apakah idealisme menjadi tujuan hidup ? ataukah idealisme adalah teman seperjalanan menuju tujuan hidup ?
Yang jelas aku sudah mendapat pelajaran berharga tentang kesabaran dan idealisme dari setahun ini aku bekerja. Mewujudkan idealisme butuh kesabaran, namun kesabaran tidak boleh menahan kita mencari jalur yang lebih baik untuk mewujudkannya.
Bersabar dengan kondisi yang ada, jujur dan kuat atas idealisme, berjuang mencapai tujuan hidup. Terdengar normatif, tapi layak untuk diusahakan.
B-2 menuju euroforia, insya Allah.
Sementara masih 0-0 Jerman vs Turki

kerja di pabrik eh di perusahaan minyak untuk dapatkan modal bikin perusahaan yg sesuai dg idealismu….
*ngomong emang gampang, hehe..*
Welcome to the real world.
dadi sidane sida nang eindhoven rak ki? :p