Internet dengan solusi triple-play memang semakin mengukuhkan dirinya sebagai media konvergensi bagi kebutuhan komunikasi manusia (baik komunikasi karya, rasa dan cipta). Solusi triple-play yang ditawarkan oleh Internet ini meliputi Televisi, Internet (data) dan Voice.
Dalam komunikasi rasa, solusi Televisi yang ditawarkan oleh Internet adalah The Next Generation TV atau yang lebih akrab dengan istilah IPTV atau televisi internet. Ya, IPTV atau IP-TV, Internet Protocol Television. Televisi yang penyiarannya dilakukan menggunakan Internet Protocol.

Jika televisi  standar sekarang ini masih disiarkan menggunakan sistem transmisi analog baik menggunakan satelit atau kabel (TV Kabel), maka IPTV disiarkan menggunakan sistem transmisi digital Internet. Keunggulan dari televisi digital ini adalah sisi interaktivitas yang selama ini tidak bisa diberikan oleh televisi standar. Dengan adanya sisi interaktif ini pemirsa bisa memberikan umpan balik atau respon terhadap tayangannya, mulai dari menentukan sendiri apa dan kapan suatu tayangan ingin dilihat sampai dengan ikut berbagi konten tayangan dengan pemirsa yang lain. Jika televisi satu arah sudah tidak akan menjadi trend lagi dimasa depan maka televisi digital interaktif akan semakin menunjukkan identitas televisi sebagai media komunikasi.

Dengan format transmisi digital ini memungkinkan siaran IPTV bisa direkayasa untuk lebih mengeksplorasi suatu konten tayangan. Adanya menu pilihan tayangan yang interaktif, fleksibilitas menentukan waktu tayangan dan saat  menikmati tayangan (replay,pause,reverse,forward),kemudahan menyalin atau menyimpan tayangan yang disukai adalah beberapa dari fitur yang ditawarkan oleh IPTV.

Siaran IPTV bisa direalisasikan dengan berbagai teknologi transmisi. Jika televisi standar menggunakan transmisi broadcast, maka untuk transmisi televisi di internet ini menggunakan mode unicast dan multicast.  Untuk transmisi unicast biasa digunakan protokol http,udp atau rtp, sedangkan untuk transmisi multicast digunakan udp atau rtp. Karena jumlah penerima siaran yang besar maka jika pada siaran televisi standar dilakukan secara broadcast maka pada IPTV,karena alasan efisiensi sumberdaya jaringan internet, pada umumnya dilakukan secara multicast.
Transmisi multicast memungkinkan pengiriman cukup hanya satu satuan data dari pihak penyiaran untuk semua pemirsa yang ingin menerima atau menyaksikan suatu konten tayangan.

Seperti halnya televisi standar yang ada sekarang dalam dunia IPTV ada siaran yang gratis dan berbayar. Kita sudah bisa menyaksikan beberapa konten tayangan secara gratis dengan hanya membutuhkan akses internet. Layanan dari Youtube adalah contohnya. Seperti stasiun televisi standar yang ada sekarang Youtube memperoleh revenue dari tayangan iklan. Namun ke depannya ada kemungkinan Youtube akan memberikan layanan TV berbayar untuk konten-konten tertentu. Youtube bisa dikategorikan sebagai layanan IPTV dengan mode transmisi unicast. Pemirsa cukup membuka halaman website-nya menggunakan browser dan mengikuti petunjuk yang ada  untuk mengakses tayangan yang ada.

Seperti TV kabel, IPTV berbayar memberikan tarif tertentu kepada pemirsa yang ingin berlangganan untuk menyaksikan konten tayangannya. Konten yang ditawarkan pun tidak jauh beda dengan konten yang sudah ada di TV kabel, hanya saja pelanggan menggunakan perangkat yang berbeda. Pelanggan yang ingin menyaksikan saluran televisi kesayangan dengan IPTV selain perlu menyediakan televisi atau layar juga  membutuhkan perangkat tambahan yang disebut sebagai set-top-box (STB).
Trend dalam dunia TV adalah jika provider TV kabel sekarang ini juga menyediakan layanan Internet melalui jaringan TV kabel mereka, maka sekarang penyedia Internet juga bisa menyediakan layanan TV menggunakan jaringan Internet. Contoh provider yang menyediakan konten IPTV bisa dilihat di http://www.iptv-industry.com/cl/iptvcontentproviders.htm

IPTV berbayar ini biasanya disiarkan menggunakan teknologi multicast yang dari sisi teknologi merupakan sebuah hal yang baru dan berbeda dari teknologi yang biasa digunakan masyarakat selama ini (unicast). Intinya, provider harus menyediakan sebuah jaringan baru yang sudah mendukung teknologi multicast sampai ke sisi pelanggannya. Di sisi pelanggan pun harus menambahkan perangkat tambahan. Hal ini seringkali menjadi penghambat perkembangan layanan IPTV karena pembaharuan sumberdaya jaringan untuk mendukukung multicast membutuhkan biaya yang besar. Di Indonesia, provider telekomunikasi sekelas Telkom atau Indosat pun sampai sekarang ini belum berani menyediakan layanan IPTV ini.

Jika menggunakan sistem transmisi unicast yang terjadi adalah pembebanan jaringan internet yang terlalu besar karena provider tayangan harus mengirimkan data sebanyak jumlah data tayangan dikali jumlah pemirsa. Hal ini tentu saja berarti kualitas tayangan akan semakin jelek dengan bertambahnya jumlah pemirsa jika provider tayangan tidak melakukan perbaikan sumberdaya jaringan. Tidak aneh bila kita sering mengalami kesulitan ketika mengakses Youtube.

Sebuah gebrakan baru telah dihadirkan oleh Joost. Joost mengklaim dirinya sebagai TV anywhere, anytime dan  new way untuk menikmati tayangan TV.
Joost menawarkan siaran IPTV dengan menggunakan kemudahan dan ketersediaan jaringan unicast yang sudah ada. Untuk memfasilitasi siaran TV yang membutuhkan bandwidth besar tetapi tanpa perlu menghadapi keterbatasan ketersediaan jaringan multicast untuk menjangkau pemirsa,Joost menggunakan teknologi unicast Peer-to-Peer (P2P), tidak seperti Youtube yang bertipe unicast client-server. Jika menggunakan Youtube, penyedia konten harus meletakkan konten video-nya di server Youtube terlebih dahulu sebelum bisa disaksikan oleh pemirsa, maka dengan Joost maka pemirsa bisa menyaksikan langsung konten dari server penyedia secara peer-to-peer.

Selama ini kita biasa mengenal teknologi P2P untuk melakukan download atau sharing data di Internet. Ada hubungannya memang, karena Joost ini adalah ide dari Niklas Zennström and Janus Friis yang merupakan penemu dari Kazaa (sebuah program aplikasi untuk sharing file dengan menggunakan teknologi P2P) dan juga Skype yang sudah sangat terkenal sebagai penyedia layanan telepon internet (VoIP).

Yang menarik, salah satu penyedia konten Viacom telah beralih dari Youtube ke Joost ini. Sampai saat ini Joost telah menyediakan beberapa layanan tayangan yang bisa dilihat di sini. (waw.. udah ada NatGeo dab! ).
Yang lebih menarik adalah di masa depan bukan tidak mungkin Joost dan Skype akan bergabung untuk menyediakan sebuah paket layanan konvergen triple-play untuk menyediakan TV, Internet dan Voice dalam satu bundel aplikasi. Dan bukan tidak mungkin akan hadir sebuah perangkat keras khusus yang bisa dipakai langsung untuk menyaksikan TV, akses Internet dan telepon !.

Dengan adanya konvergensi layanan ini efeknya untuk masyarakat tentu saja adalah biaya yang lebih murah untuk menikmati layanan komunikasi tanpa batas. Eh.. nanti dulu.. untuk kita masyarakat Indonesia, terlebih dahulu kita harus mempunyai fasilitas jaringan Internet yang berkecepatan tinggi  dan terbebas dari terali proxy :P.

Untuk menikmati layanan Joost ini kita tidak cukup dengan bandwidth besar namun juga  harus mempunyai akses langsung ke Internet (tanpa melalui proxy) :( 

duh…

Powered by ScribeFire.


6 Responses to “Joost, Next Generation TV”  

  1. 1 ericsonfp

    Kemarin baru nerima presentasi tentang isu ini di kantor. Memang sepertinya akan menjadi sesuatu yang makin hangat ke depannya. Cuma masih tersandung di “terbatasnya” bandwidth untuk transmisi berkualitas tinggi, sekualitas HDTV misalnya. Mungkin nanti ke depan jadi semakin populer, ketika infrastruktur jaringan semakin bagus dan efisiensi encoder meningkat.
    Digital broadcasting yang non-IP juga sebenarnya sudah mendukung interaktivitas dengan penonton lo Ndi. Cuma belum dimanfaatkan saja sama broadcaster.

  2. 2 rusiawan

    hehe.. ditempatmu situ udah ada jaringan gigabit kan ya ? (Japan Gigabit Network)
    Memang bisa interaktif sih, cuma tetap harus menggunakan perangkat tambahan kan ya, (telepon misalnya) dan itupun dengan si broadcaster atau si broadcaster menjadi perantara.
    Karena bagaimanapun dalam digital brodcaster yang ada sekarang (hehe.. tepatnya memang bisa dibilang “digital broadcasting non-ip” sih, soalnya sebenarnya memang bukan analog :D ) masih bersifat satu arah, dari penyiar ke pemirsa saja.

  3. 3 dzaia-bs

    bandwidth besar = mahal

  4. 4 Fajar

    wahwah

    menarik sekali…

    masih jauh untuk kita yang di id kyknya

  5. 5 igun

    Kerugian bagi perusahaan yang mau beriklan..
    lha wong ntar, bisa diskip iklannya..

    he..he..he..

  6. 6 dikshie

    kirim euy invitaion nya ! :-)

Leave a Reply