Sistem Pendidikan di IPDN

By: rusiawan

Apr 17 2007

Category: Uncategorized

7 Comments

Pada suatu acara talk show interaktif di suatu stasiun televisi dibahas mengenai masalah sistem pendidikan di IPDN. Para narasumber antara lain :

D = Narasumber dari DPR

I = Narasumber dari IPDN

M = Narasumber dari TNI

P = Narasumber dari preman pasar

Berikut sebagian potongan pembicaraan :

MC : Baik, bung D, menurut Anda sebenarnya ada apa dengan sistem pendidikan di IPDN ?

D : Jelas sekali Mbak, sistem pendidikan di IPDN jelas sekali menganut paham militerisme, harus dibubarkan itu IPDN …. (dipotong oleh Jenderal M)

M : Eh sebentar sebentar Bung D !, Anda jangan seenaknya gitu menggunakan istilah, kami tidak terima,kami tersinggung ! sistem pendidikan militer tidak seperti itu, dalam pendidikan militer memang ada hukuman fisik, tapi tidak ada kontak fisik ! yang dilakukan oleh IPDN itu adalah pendidikan premanisme !. Saya tekankan lagi… itu bukan.. (tiba2 dipotong oleh Bang P)

P : Heh Pak Jenderal, Lu jangan seenaknya gitu dong… gue mewakili preman-preman tidak terima !, itu bukan premanisme… dalam premanisme, kami preman-preman mempunyai alasan kuat untuk melakukan pemukulan, sesadis-sadisnya tindakan kami, setidaknya kami masih punya tujuan dan alasan, selagi korban mau menuruti kemauan kami, kami jamin tak sehelai rambut pun akan kami sentuh !. Sebagai tambahan, asal kalian tau saja ya.. kami preman bukanlah pengecut yang berlindung di balik senioritas dan seragam ketat ! pada mau melawan silakan saja.. ayo sini maju semua… !

MC : Waduh… kalau bukan sistem pendidikan militer atau premanisme lalu apakah gerangan ? Bapak Prof. I bisa memberikan klarifikasi ?

I : Apalah arti sebuah nama, apapun itu, intinya itu adalah sistem pendidikan kami, dan kami bangga atas itu, seperti halnya kami bangga pada seragam kami. Sistem itu sebenarnya telah kami kembangkan sejak awal tahun 90-an. Sistem itu merupakan perpaduan antara sistem pendidikan militer yang terkenal dengan senioritasnya dan premanisme yang terkenal dengan kekejamannya. Sistem itu lahir dari kristalisasi keringat dan darah para praja-praja kami. Maka dari itu salah besar jika pemerintah ingin membubarkan IPDN, sebuah kerugian yang sangat besar menurut saya.

Apalagi sebenarnya kami sedang menjajaki kerjasama dengan Satpol PP dalam program orientasi anggota baru Satpol PP. Rencananya tahun ini semua anggota Satpol PP sebelum diterjunkan ke lapangan akan mengikuti diklat dulu di kampus kami di Jatinangor.

Tapi rencana tinggalah rencana, gara-gara kasus yg terjadi baru-baru ini ada kemungkinan sistem kami akan diganti, seperti halnya seragam kami yang akan diganti dengan seragam putih-hitam. Tak ada lagi seragam ketat yang memperlihatkan kegagahan dan keseksian para praja kami. Tak ada lagi kebanggaan saat jalan-jalan ke BEC, BSM atau BIP.

-no offense pliss :P-

7 comments on “Sistem Pendidikan di IPDN”

  1. Emang seragam bikin keren ya…:D Rasanya cewek-cewek naksir bukan karena seragamnya….lebih pada orang yang memakainya…

    Hmm Andi, selamat datang lagi ke dunia maya….aku pikir udah mau bertapa…..:D

  2. apa mas? praja seksi?? huahua.. bahasanya itu lho..
    eh iya, seragamnya bagus, tapi emang didukung ma badannya jg sih :p apa penendangan bisa bikin badan lebih seksi yah??
    *yg biasanya ilfil liat cowo pake baju ketat*

  3. IPDN memang gila, tuh..

  4. he,,he,,, lucu juga,, jadi kalo IPDN bukan militerisme, sama premanisme,, terus apa dong?

  5. Wow.. ikutan komentar IPDN to?

  6. Ah, bisa-bisa nya bikin cerita. tapi bagus juga…

  7. hahahha pada tersinggung yang preman yang militer…

    hal itu membuktikan, bukan organisasinya yang salah tapi oknum yang bejad… saya tidak setuju IPDN di bubarkan. yang tidak ada disana menurut saya fungsi kontrol dari para “Top Management” sehingga pada level midle managemen dan low managemen berbuat apa saja yang mereka inginkan.

    kalau bicara oknum, praja yang “bejad” tadi tidak lepas dari tanggung jawab pimpinan pada saat Rekruitment. saya curiga sistem Feodal masih berpengaruh di IPDN yang di kembangkan oleh mereka yang merasa punya
    “kekuatan” disana.

    sekali lagi, bukan organisasinya melainkan Individu.
    salam…


Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.